Talkshow Ramadhan Masjid Asy-Syarif BSD bertajuk "Menjadi Penulis Rabbani di Era Digital" Mengajak Penulis dan Pendakwah Membuat Konten Kreatif Kekinian
POTRETSATU COM, Tangerang Selatan - Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Asy-Syarif BSD menutup rangkaian Ramadhan Fest Asy-Syarif melalui Talkshow Spesial Ramadhan ke-7 yang bertajuk "Menjadi Penulis Rabbani di Era Digital", bertempat di Teras Dakwah (Tanoshi Coffee) Masjid Asy-Syarif Al-Azhar BSD, Ahad (23/03).
Kegiatan ini diadakan dalam rangka memakmurkan masjid dan membangun kolaborasi antarkomunitas, khususnya di bulan Ramadhan. Sekaligus juga memperkenalkan unit usaha Tanoshi Coffee atau yang dikenal sebagai Teras Dakwah Masjid Asy-Syarif Al-Azhar BSD yang baru saja diresmikan bulan lalu.
Kegiatan menjelang berbuka puasa bersama ini dihadiri lebih dari 30 orang dari kelompok pegiat literasi atau Taman Baca Masyarakat (TBM) di wilayah Provinsi Banten. Diharapkan kegiatan ini akan terus berlanjut pada sesi pasca Ramadhan ini, dengan tema-tema yang kekinian dan menarik kehadiran berbagai komunitas untuk berdiskusi di masjid.
"Kami membangun Teras Dakwah ini bertujuan sebagai tempat berkumpulnya berbagai komunitas yang diharapkan bisa bersinergi dengan tujuan utama membangun kemakmuran masjid, dan program 'Ayo Kembali ke Masjid'. Tadi juga sudah diobrolkan bahwa nantinya kami berencana juga membangun Taman Baca di Masjid, dalam upaya membangun budaya literasi dan keilmuan ummat," ungkap Irwan Bachtiar Ketua Bidang Pendidikan, Pembinaan Pemuda dan Remaja DKM Asy-Syarif BSD dalam sambutannya.
Talkshow ini diadakan setiap Sabtu dan Ahad selama bulan Ramadhan, dan telah memasuki chapter ke-7 (terakhir) pada Ramadhan 1446 Hijriah ini dengan mengundang narasumber di bidang kepenulisan, literasi, digital, dan dakwah.
Didapuk sebagai narasumber 3 (tiga) orang, antara lain: (1) Herlina Mustikasari, Ketua Umum Komunitas Masyarakat Gemar Membaca (MAGMA) Kota Tangerang Selatan dan Pengurus Pusat Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB); (2) Kang Taufiq, Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Provinsi Banten; (3) Ahmad Zakaria, Wakil Ketua Pengurus Daerah (PD) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Tangerang Selatan, sebagaimana tertera dalam flyer kegiatan.
Narasumber pertama, Herlina memaparkan tentang pentingnya budaya literasi di masyarakat. Mengingat semakin minimnya minat dan budaya membaca masyarakat kita, memerlukan gerakan bersama agar dapat meningkatkan tingkat literasi masyarakat.
"Menulis adalah level tertinggi dalam kemampuan berbahasa setelah membaca, menyimak, dan berbicara. Hal ini menjadi sangat penting. Kami terus berupaya konsisten di bidang literasi ini.
Alhamdulillah lebih dari 150 Taman Baca Masyarakat yang telah bergabung, dan dari sana bermunculan penulis-penulis baru yang menelurkan karyanya dalam bentuk buku, baik fiksi, non fiksi, kumpulan cerpen maupun puisi yang layak untuk dibaca sebagai khasanah keilmuan masyarakat," ungkap Herlina yang telah sukses membangun komunitas MAGMA Kota Tangsel.
Sedangkan narasumber kedua, Taufiq mengingatkan kembali hubungan karya kepenulisan, jejak digital, serta catatan amal perbuatan di dunia, sebagai bentuk keabadian yang tak mudah dihapuskan.
"Pepatah mengatakan, 'Ikatlah ilmu dengan tulisan' dan 'Menulislah maka engkau abadi'. Di sisi lain ada jejak digital yang tertoreh melalu perangkat kita, sebagai sebuah karya. Pun sama juga dengan catatan amal perbuatan kita selama kita hidup di dunia.
Semuanya sama, akan abadi, tak mudah dihapuskan. Karenanya, buatlah karya-karya yang positif, menularkan kebaikan berdasarkan nilai-nilai ketuhanan (Rabbani). Mengingat tadi, minat baca masyarakat kita mulai menurun, selain di bidang penulisan karya buku yang tebal, cobalah buat konten multimedia yang menarik, singkat dan mudah dipahami.
Diadaptasi dari tulisan-tulisan tersebut yang disampaikan kepada masyarakat dengan tren kekinian.
Saat ini, di era digital ini, banyak masyarakat berkumpul (missal) di platform TikTok, maka hadirkanlah diri kita di sana untuk membuat karya yang positif, agar masyarakat tidak tergerus arus konten yang negatif," ungkap Taufiq, pria berkaca mata yang kerap menggunakan iket khas Baduy ini.
Dan pada sesi ketiga, narasumber terakhir, Zakaria secara gamblang mengisahkan nilai-nilai luhur literasi Rabbani dan sejarahnya.
"Kita ingat ayat Al-Qur'an pertama yang diturunkan Allah SWT adalah 'Iqra bismirabbikalladzi khalaq' artinya 'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan'.
Dan selaras denga tema hari ini, menjadi penulis Rabbani di era digital kita bisa melihat para Imam dan Ulama terdahulu yang telah banyak membuat karya dalam kitab-kitabnya, tentunya dengan semangat ketuhanan, sehingga mereka tak pernah menulis tidak dalam keadaan berwudhu dan mengawalinya dengan shalat Sunnah.
Seyogyanya kita pun menghormati ilmu dan sumber ilmu tersebut.
Ketika kita membaca kitab/buku mereka, sempatkanlah mengirimkan do'a dan al-fatihah kepada mereka yang telah berjihad dalam dakwah dan literasi Islam, sehingga kita saat ini dapat menikmati zaman yang terang benderang dengan ilmu," ungkap Zakaria.
Talkshow berjalan secara interaktif dengan diskusi dan tanya jawab baik antar narasumber maupun dengan peserta, hingga menghasilkan 5 (lima) poin kesimpulan sebagai berikut:
1. Teruslah membaca kemudian menulis membuahkan karya, dari hal terkecil, sederhana serta konsisten dalam kebaikan dan konten yang positif, meskipun sekadar status, cuitan, ataupun story.
2. Pelajari berbagai platform digital yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan jangkauan kita menebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat.
3. Digitalisasi karya tulisan kita agar memudahkan dan menjangkau pemirsa.
4. Adaptasi karya tulisan kita menjadi sebuah konten pendek berbentuk multimedia yang masuk ke ruang kekinian di berbagai perangkat digital dan aplikasi yang digunakan masyarakat.
5. Teruslah bangun budaya membaca, budaya menyimak, budaya mendengarkan, sembari meningkatkan edukasi literasi digital masyarakat, agar dapat mengeliminasi efek negatif teknologi seperti stigma 'generasi rebahan dan scrolling'. (Harso).